Tes IGRA: Metode Deteksi Tuberkulosis (TBC) Laten dan Aktif yang Paling Akurat
Masdoni.com Bismillah semoga hari ini penuh kebaikan. Dalam Blog Ini mari kita bahas keunikan dari General yang sedang populer. Tulisan Tentang General Tes IGRA Metode Deteksi Tuberkulosis TBC Laten dan Aktif yang Paling Akurat Jangan berhenti di sini lanjutkan sampe akhir.
- 1.
1. Tuberkulosis Aktif
- 2.
2. Tuberkulosis Laten (LTBI)
- 3.
Definisi dan Fungsi Interferon-Gamma (IFN-γ)
- 4.
Antigen Spesifik TBC (ESAT-6 dan CFP-10)
- 5.
Langkah-Langkah Pelaksanaan Tes IGRA
- 6.
1. Eliminasi Pengaruh Vaksin BCG
- 7.
2. Hasil Objektif dan Kuantitatif
- 8.
3. Hanya Membutuhkan Satu Kunjungan
- 9.
4. Sensitivitas dan Spesifisitas yang Lebih Tinggi
- 10.
5. Lebih Stabil pada Kelompok Imunokompromais Tertentu
- 11.
1. QuantiFERON-TB Gold Plus (QFT-Plus)
- 12.
2. T-SPOT.TB
- 13.
1. Kontak Erat dengan Pasien TBC Aktif
- 14.
2. Individu dengan Kondisi Imunokompromais
- 15.
3. Skrining Sebelum Pemberian Terapi Biologis
- 16.
4. Tenaga Kesehatan (Nakes)
- 17.
5. Imigran dari Wilayah Endemis TBC
- 18.
1. Hasil Positif
- 19.
2. Hasil Negatif
- 20.
3. Hasil Indeterminate
- 21.
1. Biaya dan Ketersediaan
- 22.
2. Tidak Mampu Membedakan TBC Laten vs. Aktif
- 23.
3. Dipengaruhi oleh Imunosupresi Berat
- 24.
4. Masalah Transportasi Sampel
- 25.
Meningkatkan Efektivitas Terapi Pencegahan
- 26.
Akurasi Diagnosis pada Anak
Table of Contents
Tes IGRA: Metode Deteksi Tuberkulosis (TBC) Laten dan Aktif yang Paling Akurat
Tuberkulosis (TBC) masih menjadi momok kesehatan global, dan diagnosis yang cepat serta akurat adalah kunci pencegahan dan pengobatan. Dalam dekade terakhir, dunia medis telah beralih ke inovasi diagnosis superior: Tes IGRA (Interferon-Gamma Release Assay). Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana Tes IGRA bekerja, mengapa ia dianggap sebagai standar emas baru, serta perannya yang krusial dalam mendeteksi TBC Laten, sebuah kondisi yang sering terlewatkan namun berpotensi mematikan.
I. Pendahuluan: Mengapa Diagnosis TBC Akurat Sangat Mendesak?
Tuberkulosis, yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, membunuh jutaan orang setiap tahun, menjadikannya salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Tantangan terbesar dalam pengendalian TBC adalah kemampuannya untuk bersembunyi di dalam tubuh manusia tanpa menunjukkan gejala—sebuah kondisi yang dikenal sebagai Tuberkulosis Laten (LTBI).
Individu dengan TBC Laten tidak sakit dan tidak menular, namun mereka membawa risiko tinggi (sekitar 5-10%) untuk berkembang menjadi TBC Aktif di kemudian hari. Deteksi dini TBC Laten adalah langkah vital untuk memutus rantai penularan dan mencegah penderitaan di masa depan. Untuk mengatasi keterbatasan metode diagnosis konvensional, ilmuwan mengembangkan Tes IGRA, sebuah uji diagnostik berbasis darah yang merevolusi cara kita mengidentifikasi infeksi TBC, baik yang aktif maupun yang laten.
Tes IGRA menawarkan akurasi yang lebih tinggi, spesifisitas yang unggul, dan menghilangkan masalah hasil positif palsu yang sering muncul pada metode lama. Pemahaman mendalam tentang IGRA tidak hanya penting bagi profesional kesehatan, tetapi juga bagi masyarakat luas yang mungkin membutuhkan skrining, terutama bagi mereka yang berada dalam kelompok risiko tinggi.
II. Memahami Spektrum TBC: Aktif, Laten, dan Kebutuhan Diagnosis Khusus
Sebelum membahas Tes IGRA secara rinci, penting untuk memahami dua bentuk utama infeksi TBC:
1. Tuberkulosis Aktif
Pada TBC Aktif, bakteri M. tuberculosis berkembang biak dengan cepat dan menyebabkan penyakit klinis (seperti batuk kronis, demam, penurunan berat badan). Pasien ini menular dan memerlukan pengobatan segera untuk menyelamatkan nyawa mereka dan mencegah penyebaran ke komunitas.
2. Tuberkulosis Laten (LTBI)
Pada LTBI, sistem kekebalan tubuh berhasil mengendalikan bakteri, sehingga bakteri tetap tidak aktif. Orang tersebut tidak menunjukkan gejala dan tidak menular. Namun, jika sistem kekebalan tubuh melemah (misalnya karena usia tua, HIV, atau penggunaan obat imunosupresif), bakteri dapat ‘bangun’ dan menyebabkan TBC Aktif.
Diagnosis TBC Aktif biasanya melibatkan rontgen dada, kultur dahak, dan tes molekuler cepat. Namun, untuk TBC Laten, di mana tidak ada gejala klinis dan kultur bakteri seringkali negatif, kita memerlukan alat yang mampu menilai respons imun tubuh terhadap bakteri tersebut. Di sinilah peran Tes IGRA menjadi sangat krusial dan tak tergantikan, menggantikan posisi Uji Tuberkulin Kulit (TST) yang sudah lama menjadi standar.
III. Tes IGRA: Prinsip Ilmiah dan Mekanisme Kerja
IGRA adalah singkatan dari Interferon-Gamma Release Assay. Prinsip dasar tes ini adalah mengukur respons imun seluler tubuh seseorang terhadap protein spesifik yang hanya ditemukan pada bakteri M. tuberculosis.
Definisi dan Fungsi Interferon-Gamma (IFN-γ)
Interferon-Gamma (IFN-γ) adalah sitokin yang dilepaskan oleh sel-T limfosit sebagai bagian dari respons imun yang dimediasi sel terhadap patogen intraseluler, seperti M. tuberculosis. Ketika seseorang terinfeksi TBC, sel-T memori mereka telah ‘mengenali’ protein bakteri tersebut. Ketika darah pasien dihadapkan kembali pada protein ini di laboratorium, sel-T yang sensitif akan merespons dengan memproduksi dan melepaskan IFN-γ dalam jumlah besar.
Antigen Spesifik TBC (ESAT-6 dan CFP-10)
Keunggulan utama IGRA terletak pada penggunaan antigen (protein) yang sangat spesifik. IGRA menggunakan peptida sintetis yang meniru protein M. tuberculosis, terutama ESAT-6 (Early Secreted Antigenic Target 6) dan CFP-10 (Culture Filtrate Protein 10). Protein ini sangat penting karena:
- Hanya Terdapat pada M. tuberculosis: ESAT-6 dan CFP-10 sebagian besar tidak ada pada sebagian besar spesies mikobakteri non-tuberkulosis (NTM).
- Tidak Ada dalam Vaksin BCG: Ini adalah poin krusial. Vaksin Bacillus Calmette–Guérin (BCG), yang sering diberikan di negara-negara endemis TBC seperti Indonesia, memberikan perlindungan terbatas dan menyebabkan hasil TST positif palsu. Karena galur BCG kekurangan gen yang menyandi ESAT-6 dan CFP-10, Tes IGRA tidak akan memberikan hasil positif karena riwayat vaksinasi BCG.
Langkah-Langkah Pelaksanaan Tes IGRA
- Pengambilan Sampel Darah: Darah vena diambil dan ditempatkan dalam tabung khusus yang sudah mengandung antigen spesifik TBC, kontrol positif (mitogen), dan kontrol negatif.
- Inkubasi: Sampel diinkubasi selama 16 hingga 24 jam. Jika sel T dalam darah pasien sebelumnya telah terpapar TBC, sel-sel tersebut akan mengenali antigen di tabung dan melepaskan IFN-γ.
- Pengukuran Sitokin: Setelah inkubasi, kadar IFN-γ yang dilepaskan diukur menggunakan teknik seperti ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) atau ELISPOT (Enzyme-Linked ImmunoSpot Assay), tergantung pada jenis tes IGRA yang digunakan (misalnya, QuantiFERON-TB Gold Plus atau T-SPOT.TB).
- Interpretasi Hasil: Hasil dihitung secara kuantitatif berdasarkan perbandingan kadar IFN-γ pada tabung antigen TBC versus tabung kontrol.
IV. Keunggulan Tes IGRA Dibandingkan Uji Tuberkulin Kulit (TST)
Selama hampir satu abad, TST (juga dikenal sebagai Tes Mantoux) adalah metode standar untuk mendeteksi infeksi TBC Laten. Namun, TST memiliki banyak kelemahan yang berhasil diatasi oleh Tes IGRA, menjadikannya metode deteksi TBC yang paling akurat dan disukai oleh pedoman klinis internasional.
1. Eliminasi Pengaruh Vaksin BCG
Kelemahan TST: TST menggunakan purified protein derivative (PPD) yang mengandung protein yang terdapat pada bakteri TBC dan juga pada galur BCG. Akibatnya, individu yang telah divaksinasi BCG dapat menghasilkan respons imun yang kuat terhadap PPD, menghasilkan hasil TST positif palsu meskipun mereka tidak terinfeksi TBC. Di Indonesia, di mana cakupan vaksinasi BCG sangat tinggi, hasil TST sering tidak dapat diandalkan.
Keunggulan IGRA: Karena IGRA menggunakan antigen (ESAT-6 dan CFP-10) yang tidak terdapat pada galur BCG, hasil tes ini tidak dipengaruhi oleh status vaksinasi BCG. Ini memberikan spesifisitas yang jauh lebih tinggi dalam mendiagnosis infeksi M. tuberculosis yang sebenarnya.
2. Hasil Objektif dan Kuantitatif
Kelemahan TST: TST memerlukan pembacaan secara visual oleh tenaga medis 48 hingga 72 jam setelah penyuntikan PPD. Pembacaan ini bergantung pada pengukuran diameter indurasi (pengerasan kulit), yang bersifat subjektif dan dapat bervariasi antar penguji.
Keunggulan IGRA: IGRA adalah tes laboratorium murni yang mengukur kadar IFN-γ dalam darah menggunakan mesin pembaca (reader) yang terstandarisasi. Hasilnya berupa nilai numerik (kuantitatif) dan interpretasi (positif, negatif, atau indeterminate) yang objektif, mengurangi potensi kesalahan manusia.
3. Hanya Membutuhkan Satu Kunjungan
Kelemahan TST: TST mengharuskan pasien kembali ke klinik dalam 2-3 hari untuk pembacaan hasil. Jika pasien lupa atau gagal datang, tes harus diulang, yang dapat menunda diagnosis dan pengobatan.
Keunggulan IGRA: Tes IGRA hanya memerlukan satu kali pengambilan sampel darah. Darah kemudian diproses di laboratorium, dan hasilnya dapat keluar dalam 24-48 jam tanpa memerlukan kunjungan kedua dari pasien.
4. Sensitivitas dan Spesifisitas yang Lebih Tinggi
Dalam populasi risiko rendah dan menengah, IGRA telah menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas yang unggul dibandingkan TST. Spesifisitas IGRA mendekati 98%, yang berarti sangat kecil kemungkinannya menghasilkan positif palsu. Sensitivitas yang tinggi (umumnya di atas 90%) juga memastikan bahwa IGRA sangat efektif dalam mendeteksi keberadaan infeksi, terutama pada TBC Laten.
5. Lebih Stabil pada Kelompok Imunokompromais Tertentu
Pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang sangat lemah, TST mungkin menghasilkan hasil negatif palsu (anergi) karena tubuh tidak mampu menghasilkan respons kulit yang memadai terhadap PPD. Meskipun IGRA juga menghadapi tantangan pada imunosupresi ekstrem, IGRA seringkali mempertahankan akurasi yang lebih baik dalam mendeteksi infeksi pada kelompok pasien yang menerima terapi imunosupresif ringan hingga sedang, seperti pasien yang akan menjalani terapi biologis.
V. Jenis-jenis Tes IGRA yang Tersedia
Saat ini, terdapat dua jenis utama Tes IGRA yang telah disetujui secara global dan digunakan secara luas, meskipun keduanya memiliki prinsip kerja yang sama, yaitu mengukur pelepasan IFN-γ:
1. QuantiFERON-TB Gold Plus (QFT-Plus)
QFT-Plus adalah generasi terbaru dari tes QuantiFERON. Tes ini mengukur kadar IFN-γ dalam plasma menggunakan teknik ELISA.
- Fitur Khusus: QFT-Plus menggunakan dua jenis tabung antigen: satu untuk respons Sel T CD4+ (yang dominan pada respons TBC awal) dan satu untuk respons Sel T CD8+ dan CD4+. Sel T CD8+ dianggap penting karena dapat mengidentifikasi infeksi aktif dan sering ditemukan pada infeksi TBC di paru-paru.
- Keunggulan: Metodenya sangat terstandarisasi dan otomatis, meminimalkan potensi variasi hasil.
2. T-SPOT.TB
T-SPOT.TB menggunakan teknik ELISPOT (Enzyme-Linked ImmunoSpot Assay). Alih-alih mengukur konsentrasi IFN-γ dalam plasma, T-SPOT.TB secara harfiah menghitung jumlah sel T yang memproduksi IFN-γ (dikenal sebagai spot-forming cells atau SFC).
- Fitur Khusus: Tes ini memerlukan isolasi limfosit dari darah terlebih dahulu sebelum inkubasi.
- Keunggulan: Karena menghitung sel secara individual, T-SPOT.TB sering dianggap memiliki sensitivitas yang sangat tinggi, terutama pada pasien dengan jumlah limfosit rendah (imunokompromais).
Kedua tes ini dianggap setara dalam hal akurasi diagnostik secara umum. Pilihan tes mana yang digunakan sering kali bergantung pada ketersediaan laboratorium, infrastruktur, dan preferensi klinis di setiap fasilitas kesehatan.
VI. Indikasi Klinis: Siapa yang Harus Menjalani Tes IGRA?
Tes IGRA merupakan alat skrining yang ideal untuk mendeteksi TBC Laten pada kelompok-kelompok yang berisiko tinggi. Penggunaan yang tepat sesuai indikasi klinis akan memaksimalkan manfaat tes ini dan membantu pengendalian TBC di tingkat komunitas. Kelompok yang sangat dianjurkan untuk menjalani Tes IGRA meliputi:
1. Kontak Erat dengan Pasien TBC Aktif
Anggota keluarga, rekan kerja, atau siapa pun yang berbagi ruang hidup atau ruang tertutup untuk waktu yang lama dengan pasien TBC Aktif memiliki risiko tinggi terinfeksi TBC Laten. Skrining dengan IGRA adalah wajib pada kelompok ini, terutama pada anak-anak di bawah usia 5 tahun yang memiliki risiko tinggi berkembang menjadi penyakit TBC Aktif yang parah.
2. Individu dengan Kondisi Imunokompromais
Sistem kekebalan yang lemah meningkatkan risiko reaktivasi TBC Laten. Kelompok ini meliputi:
- Penderita HIV/AIDS: Infeksi HIV adalah faktor risiko terkuat untuk perkembangan TBC.
- Pasien yang Akan Menerima Terapi Imunosupresif: Pasien dengan rheumatoid arthritis, psoriasis, atau penyakit autoimun lainnya yang akan memulai pengobatan biologis (misalnya anti-TNF-α) harus diskrining terlebih dahulu. Terapi biologis dapat memicu TBC Laten menjadi Aktif.
- Pasien Penerima Transplantasi Organ: Obat anti-penolakan (imunosupresan) yang digunakan setelah transplantasi meningkatkan risiko TBC.
- Pasien Dialisis Ginjal: Pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir.
3. Skrining Sebelum Pemberian Terapi Biologis
Ini adalah salah satu indikasi klinis paling penting dan berkembang pesat. Sebelum memulai pengobatan yang menekan sistem imun (terutama obat anti-TNF seperti Adalimumab atau Infliximab), dokter wajib memastikan bahwa pasien bebas dari TBC Laten. Jika IGRA positif, pasien harus menerima terapi pencegahan TBC (TPT) terlebih dahulu sebelum memulai terapi biologis.
4. Tenaga Kesehatan (Nakes)
Tenaga medis yang bekerja di lingkungan berisiko tinggi (misalnya, ruang isolasi TBC, laboratorium mikrobiologi) harus menjalani skrining TBC secara berkala untuk memastikan mereka tidak terinfeksi dan untuk mencegah penularan kepada pasien rentan lainnya.
5. Imigran dari Wilayah Endemis TBC
Individu yang baru saja bermigrasi dari negara-negara dengan prevalensi TBC yang tinggi, termasuk Indonesia, seringkali disaring di negara tujuan (misalnya, Amerika Serikat, Eropa, Australia) menggunakan Tes IGRA.
VII. Interpretasi Hasil Tes IGRA
Meskipun hasilnya objektif, interpretasi hasil IGRA harus selalu dikaitkan dengan konteks klinis, riwayat paparan, dan kondisi kesehatan pasien.
1. Hasil Positif
Hasil IGRA positif menunjukkan bahwa individu tersebut telah terinfeksi oleh M. tuberculosis (TBC Laten atau Aktif). Ini mengindikasikan bahwa Sel T pasien telah bereaksi kuat terhadap antigen TBC, melepaskan IFN-γ dalam jumlah signifikan.
- Tindakan Lanjut: Jika IGRA positif, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti rontgen dada dan evaluasi klinis, untuk menentukan apakah infeksi tersebut TBC Laten atau TBC Aktif. Jika TBC Aktif disingkirkan, pasien dengan TBC Laten biasanya disarankan untuk menjalani Terapi Pencegahan TBC (TPT).
2. Hasil Negatif
Hasil IGRA negatif menunjukkan bahwa kemungkinan infeksi M. tuberculosis sangat rendah. Ini berarti Sel T pasien tidak bereaksi terhadap antigen yang diberikan.
- Perhatian Khusus: Hasil negatif dapat menjadi negatif palsu pada pasien yang baru terpapar TBC (infeksi baru) atau pada pasien yang sangat imunokompromais, di mana sistem imun mereka terlalu lemah untuk menghasilkan respons IFN-γ.
3. Hasil Indeterminate
Hasil indeterminate (tidak dapat ditentukan) terjadi ketika respons sel T pada tabung kontrol positif (mitogen) terlalu rendah, atau respons pada tabung kontrol negatif (nol) terlalu tinggi. Ini sering terjadi karena masalah pengambilan sampel, transportasi, atau yang lebih umum, karena anomali pada sistem kekebalan pasien.
- Tindakan Lanjut: Tes harus diulang. Jika tetap indeterminate, dokter harus menggunakan penilaian klinis yang mendalam dan mungkin beralih ke metode diagnosis lain.
VIII. Tantangan dan Keterbatasan Tes IGRA
Meskipun IGRA adalah alat yang sangat akurat, ia tidak bebas dari tantangan dan keterbatasan, yang perlu dipahami oleh klinisi dan pasien.
1. Biaya dan Ketersediaan
Tes IGRA jauh lebih mahal daripada TST, dan memerlukan peralatan laboratorium yang canggih (ELISA reader atau ELISPOT reader). Di fasilitas kesehatan tingkat pertama atau di daerah terpencil, aksesibilitas IGRA masih menjadi kendala besar.
2. Tidak Mampu Membedakan TBC Laten vs. Aktif
Baik TBC Laten maupun TBC Aktif akan menghasilkan IGRA positif. Tes ini hanya menunjukkan bahwa infeksi telah terjadi di masa lalu atau saat ini. Oleh karena itu, IGRA harus selalu digunakan sebagai bagian dari paket diagnostik yang mencakup anamnesis klinis, pemeriksaan fisik, dan pencitraan (Rontgen Toraks).
3. Dipengaruhi oleh Imunosupresi Berat
Pada pasien dengan imunosupresi yang sangat parah (misalnya, jumlah limfosit CD4+ yang sangat rendah pada pasien HIV), IGRA dapat menghasilkan negatif palsu (meskipun masih lebih baik daripada TST dalam konteks ini) atau hasil indeterminate karena ketidakmampuan sel T untuk memproduksi IFN-γ.
4. Masalah Transportasi Sampel
Sampel darah IGRA sangat sensitif terhadap waktu dan suhu. Idealnya, sampel harus diproses dalam waktu 8-16 jam setelah pengambilan. Keterlambatan dalam transportasi atau kondisi penyimpanan yang tidak tepat dapat memengaruhi viabilitas sel T dan menghasilkan hasil yang tidak akurat, khususnya indeterminate atau negatif palsu.
IX. Peran IGRA dalam Pengendalian TBC Global dan Nasional
Integrasi Tes IGRA ke dalam pedoman skrining TBC telah memberikan dampak signifikan terhadap upaya eliminasi TBC global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penggunaan IGRA, terutama untuk skrining TBC Laten pada kelompok risiko tinggi di negara-negara maju dan berkembang.
Meningkatkan Efektivitas Terapi Pencegahan
Dengan akurasi yang tinggi, IGRA memungkinkan dokter untuk mengidentifikasi individu yang benar-benar terinfeksi TBC Laten, sehingga terapi pencegahan TBC (TPT) dapat diberikan tepat sasaran. Hal ini mengurangi pemberian obat yang tidak perlu (yang berpotensi menimbulkan efek samping dan resistensi obat) kepada mereka yang hanya positif karena vaksin BCG.
Akurasi Diagnosis pada Anak
Diagnosis TBC pada anak seringkali menantang karena anak-anak sulit mengeluarkan dahak dan gejala klinisnya tidak spesifik. Dalam konteks ini, IGRA menawarkan alat diagnosis yang sangat berharga untuk mengonfirmasi paparan M. tuberculosis, terutama jika TST terpengaruh oleh riwayat BCG.
X. Kesimpulan: Tes IGRA, Masa Depan Deteksi TBC
Tes IGRA merupakan lompatan besar dalam diagnosis dan pengendalian Tuberkulosis. Dengan prinsip ilmiah yang kuat, yang berfokus pada respons imun spesifik terhadap antigen M. tuberculosis (ESAT-6 dan CFP-10), Tes IGRA menawarkan akurasi superior dan mengatasi keterbatasan mendasar dari TST, terutama di negara-negara dengan program vaksinasi BCG yang luas.
Tes IGRA menjadi sangat penting dalam identifikasi TBC Laten, memungkinkan intervensi pengobatan pencegahan yang tepat waktu dan terfokus pada kelompok risiko tinggi. Meskipun memiliki tantangan terkait biaya dan logistik, manfaat diagnostik yang diberikan oleh IGRA menjadikannya alat yang tidak tergantikan dalam upaya global untuk mengakhiri epidemi TBC. Bagi Anda yang termasuk dalam kelompok risiko tinggi, konsultasikan dengan dokter mengenai pentingnya menjalani Tes IGRA untuk memastikan langkah pencegahan terbaik dapat dilakukan.
Itulah penjelasan rinci seputar tes igra metode deteksi tuberkulosis tbc laten dan aktif yang paling akurat yang saya bagikan dalam general Saya berharap tulisan ini membuka wawasan baru kembangkan potensi diri dan jaga kesehatan mental. Jangan lupa untuk membagikan ini kepada sahabatmu. Sampai jumpa lagi
✦ Tanya AI
Saat ini AI kami sedang memiliki traffic tinggi silahkan coba beberapa saat lagi.