Peringatan Penting Pakar Farmasi UGM: Mengurai Mitos dan Bahaya 'Obat Dewa' Dexamethasone
Masdoni.com Mudah-mudahan semangatmu tak pernah padam. Di Kutipan Ini saya akan mengulas fakta-fakta seputar Kesehatan, Obat-obatan, Mitos dan Fakta, Farmasi, Dexamethasone. Tulisan Yang Mengangkat Kesehatan, Obat-obatan, Mitos dan Fakta, Farmasi, Dexamethasone Peringatan Penting Pakar Farmasi UGM Mengurai Mitos dan Bahaya Obat Dewa Dexamethasone Jangan berhenti teruskan membaca hingga tuntas.
- 1.
Farmakologi: Kekuatan Dahsyat Dexamethasone
- 2.
1. Penekanan Kelenjar Adrenal dan Sindrom Putus Obat (Adrenal Suppression)
- 3.
2. Peningkatan Risiko Infeksi Sekunder dan Imunosupresi
- 4.
3. Ancaman 'Silent Killer': Diabetes dan Hipertensi yang Dipicu Steroid
- 5.
4. Kerusakan Jaringan dan Organ: Osteoporosis dan Miopati
- 6.
5. Gangguan Mental dan Neuropsikiatri
- 7.
Peran Krusial Apoteker dalam Pencegahan Swamedikasi
- 8.
Mitos 1: Dexamethasone adalah 'Vaksin' Cepat atau Pencegah COVID-19
- 9.
Mitos 2: Dexamethasone harus dibeli sebagai ‘Persediaan Darurat’ di Rumah
- 10.
Mitos 3: Semua obat COVID-19 harus mengandung Dexamethasone
- 11.
Pentingnya Pendekatan Multidisiplin UGM
- 12.
1. Jangan Pernah Berhenti Tiba-Tiba
- 13.
2. Konsultasi untuk Program Tapering Off
- 14.
3. Pemantauan Kesehatan Holistik
Table of Contents
Pandemi global COVID-19 telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk cara masyarakat memandang dan mengonsumsi obat-obatan. Di tengah kekhawatiran dan pencarian solusi cepat, muncul satu nama obat yang secara luas dijuluki sebagai ‘Obat Dewa’ atau ‘Obat Ajaib’: Dexamethasone. Obat golongan kortikosteroid ini memang terbukti sangat efektif dalam menangani pasien COVID-19 dengan kondisi sedang hingga berat, terutama karena kemampuannya meredam badai sitokin yang mengancam nyawa. Namun, euforia publik terhadap Dexamethasone telah menimbulkan gelombang swamedikasi yang sangat mengkhawatirkan. Penggunaan tanpa indikasi yang tepat, tanpa pengawasan dokter, dan yang paling berbahaya, tanpa pengetahuan memadai mengenai efek samping jangka panjangnya, kini menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang baru.
Menanggapi fenomena ini, Pakar Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), sebuah institusi farmasi terkemuka di Indonesia, mengeluarkan peringatan keras dan mendalam. Peringatan ini bukan hanya bersifat imbauan, tetapi merupakan penjelasan ilmiah yang komprehensif mengenai bahaya tersembunyi di balik keampuhan Dexamethasone. Artikel ini bertujuan untuk mengupas tuntas tinjauan kritis dari Pakar Farmasi UGM, memberikan pemahaman yang mendalam tentang mekanisme kerja obat, risiko fatal akibat penggunaan tidak rasional, serta pentingnya penggunaan Dexamethasone hanya di bawah pengawasan ketat tenaga kesehatan profesional.
I. Dexamethasone: Mengenal Lebih Dekat 'Pedang Bermata Dua'
Sebelum membahas peringatan dari Pakar Farmasi UGM, penting untuk memahami apa sebenarnya Dexamethasone itu. Dexamethasone adalah obat sintetik yang termasuk dalam kelompok kortikosteroid. Ia meniru fungsi hormon alami yang diproduksi oleh kelenjar adrenal dalam tubuh. Keunggulan utamanya adalah sifat anti-inflamasi dan imunosupresifnya yang sangat poten, jauh lebih kuat dibandingkan banyak kortikosteroid lainnya. Dalam dunia medis, ia telah lama digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi, seperti alergi parah, radang sendi, asma akut, penyakit autoimun, hingga beberapa jenis kanker.
Farmakologi: Kekuatan Dahsyat Dexamethasone
Dexamethasone bekerja dengan menekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresi) dan mengurangi respons peradangan. Dalam konteks COVID-19, khususnya pada pasien yang mengalami perburukan, sistem imun seringkali bereaksi berlebihan—fenomena yang dikenal sebagai ‘badai sitokin’. Badai sitokin ini menyebabkan kerusakan luas pada paru-paru dan organ vital lainnya. Di sinilah Dexamethasone berperan sebagai penyelamat, meredam badai sitokin tersebut. Namun, kekuatan inilah yang menjadikannya ‘pedang bermata dua’.
Pakar Farmasi UGM menekankan bahwa Dexamethasone bukanlah obat antivirus. Ia tidak membunuh virus SARS-CoV-2. Fungsinya adalah mengendalikan kerusakan yang disebabkan oleh respons tubuh terhadap virus. Oleh karena itu, penggunaannya tidak efektif, bahkan berbahaya, pada fase awal infeksi atau pada kasus ringan yang belum menunjukkan peradangan sistemik yang signifikan. Miskonsepsi inilah yang mendorong masyarakat untuk mengonsumsinya sebagai ‘pencegahan’ atau ‘obat flu biasa’.
II. Mengapa Dexamethasone Dijuluki 'Obat Dewa' Saat Pandemi?
Julukan ‘Obat Dewa’ mulai melekat kuat pada Dexamethasone setelah hasil studi RECOVERY yang dilakukan di Inggris pada tahun 2020. Studi ini menunjukkan bahwa pemberian dosis rendah Dexamethasone secara signifikan dapat menurunkan angka kematian pada pasien COVID-19 yang membutuhkan bantuan pernapasan (ventilator atau oksigen tambahan). Penemuan ini disambut euforia global, menempatkan Dexamethasone sebagai salah satu standar pengobatan inti COVID-19 di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Sayangnya, informasi ini tersaring ke masyarakat umum dengan interpretasi yang keliru. Publik sering mengabaikan detail penting bahwa efektivitasnya hanya terbukti pada: (1) pasien dengan kebutuhan oksigen, dan (2) penggunaannya harus dibatasi pada jangka waktu yang sangat singkat (umumnya 7-10 hari). Kerancuan informasi ini, ditambah dengan ketersediaan obat yang relatif mudah dan murah, mendorong praktik swamedikasi Dexamethasone yang menjadi fokus utama peringatan dari Pakar Farmasi UGM.
Dalam pandangan Farmasi Klinis UGM, lonjakan permintaan Dexamethasone untuk kasus-kasus ringan atau bahkan tanpa gejala adalah praktik yang bertentangan dengan prinsip Penggunaan Obat Rasional (POR). Dampaknya tidak hanya individual (kerusakan tubuh), tetapi juga kolektif (kelangkaan stok untuk pasien yang benar-benar membutuhkan).
III. Peringatan Krusial Pakar Farmasi UGM: 5 Bahaya Utama Penggunaan Tidak Rasional
Tim peneliti dan edukator dari Fakultas Farmasi UGM secara konsisten mengingatkan masyarakat bahwa penggunaan Dexamethasone harus dihentikan jika tidak ada indikasi medis yang kuat, terutama pada infeksi ringan yang dapat sembuh sendiri. Mereka menggarisbawahi lima bahaya utama yang mengintai bagi siapa pun yang menggunakan Dexamethasone tanpa pengawasan profesional:
1. Penekanan Kelenjar Adrenal dan Sindrom Putus Obat (Adrenal Suppression)
Ini adalah risiko jangka panjang yang paling serius dan sering diabaikan. Ketika seseorang mengonsumsi Dexamethasone (hormon kortikosteroid buatan) secara rutin, tubuh akan menganggap pasokan hormon ini sudah mencukupi. Akibatnya, kelenjar adrenal, yang bertanggung jawab memproduksi kortisol alami, akan berhenti bekerja atau ‘tertekan’. Dalam istilah medis, hal ini disebut adrenal suppression.
Pakar Farmasi UGM menjelaskan, jika penggunaan Dexamethasone dihentikan secara tiba-tiba setelah pemakaian lebih dari dua minggu, kelenjar adrenal tidak akan mampu langsung berfungsi normal. Tubuh akan kekurangan kortisol vital, yang dapat memicu kondisi gawat darurat yang disebut Insufisiensi Adrenal Akut. Gejala yang timbul bisa berupa kelelahan ekstrem, nyeri sendi, mual, muntah, penurunan berat badan, hingga syok yang mengancam jiwa.
“Proses penghentian Dexamethasone tidak boleh dilakukan secara mendadak. Harus melalui proses penurunan dosis bertahap (tapering off). Hanya Pakar Farmasi atau Dokter yang dapat menentukan jadwal tapering off yang aman, disesuaikan dengan dosis kumulatif dan durasi penggunaan obat oleh pasien,” tegas salah satu perwakilan farmasis klinis UGM.
2. Peningkatan Risiko Infeksi Sekunder dan Imunosupresi
Dexamethasone adalah imunosupresan yang kuat. Sementara efek ini bermanfaat untuk meredam respons peradangan COVID-19 yang berlebihan, ia juga melemahkan pertahanan tubuh terhadap patogen lain. Penggunaan Dexamethasone secara tidak perlu atau dalam jangka waktu lama membuat pasien sangat rentan terhadap infeksi sekunder, terutama:
- Infeksi Jamur (Mikosis): Salah satu yang paling dikhawatirkan adalah Mucormycosis, atau yang dikenal sebagai ‘Jamur Hitam’, yang meningkat kasusnya pasca-pandemi. Kondisi ini sering menyerang pasien yang memiliki riwayat penggunaan steroid yang tidak terkontrol, terutama yang juga memiliki diabetes.
- Reaktivasi Infeksi Laten: Kortikosteroid dapat membangunkan kembali infeksi yang selama ini ‘tertidur’ di dalam tubuh, seperti Tuberkulosis (TBC) atau Herpes.
Peringatan dari UGM sangat jelas: jangan mengorbankan sistem kekebalan tubuh Anda hanya untuk ‘berjaga-jaga’ terhadap COVID-19 yang mungkin tidak memerlukan intervensi steroid.
3. Ancaman 'Silent Killer': Diabetes dan Hipertensi yang Dipicu Steroid
Dexamethasone memiliki efek samping metabolik yang signifikan. Obat ini dapat mengganggu cara tubuh memproses glukosa, yang dikenal sebagai glukoneogenesis. Penggunaan Dexamethasone, bahkan dalam waktu singkat, dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah (Hiperglikemia). Bagi individu yang sudah memiliki predisposisi genetik atau menderita pre-diabetes, Dexamethasone dapat secara cepat memicu munculnya Diabetes Melitus (DM) yang dipicu oleh steroid.
Selain diabetes, Dexamethasone juga dapat menyebabkan retensi natrium dan cairan, yang secara langsung meningkatkan tekanan darah. Penggunaan yang berkelanjutan dapat memperburuk kondisi hipertensi yang sudah ada atau memicu hipertensi baru pada pasien. Pakar Farmasi UGM menyerukan bahwa bahaya ini menjadikan Dexamethasone benar-benar terlarang bagi swamedikasi, karena pemantauan gula darah dan tekanan darah yang ketat diperlukan selama terapi berlangsung.
Dampak Metabolik Dexamethasone yang Perlu Diwaspadai:
- Hiperglikemia dan potensi diabetes.
- Retensi cairan dan elektrolit.
- Peningkatan nafsu makan dan penambahan berat badan yang cepat.
- Dislipidemia (perubahan profil lemak darah).
4. Kerusakan Jaringan dan Organ: Osteoporosis dan Miopati
Meskipun sering dikaitkan dengan penggunaan jangka panjang, efek samping pada jaringan penyangga tubuh juga dapat terjadi. Dexamethasone mengganggu penyerapan kalsium dan mempercepat pengeroposan tulang (osteoporosis). Bagi pasien lanjut usia atau mereka yang sudah memiliki kepadatan tulang rendah, penggunaan Dexamethasone tanpa suplementasi kalsium dan Vitamin D yang memadai dapat meningkatkan risiko patah tulang, bahkan dari cedera ringan.
Selain tulang, kortikosteroid juga dapat menyebabkan miopati (kelemahan otot), terutama pada otot proksimal (paha dan bahu). Kelemahan ini dapat memburuk seiring berjalannya terapi dan memerlukan rehabilitasi fisik yang intensif.
5. Gangguan Mental dan Neuropsikiatri
Pakar Farmasi UGM juga menyoroti aspek kesehatan mental. Dexamethasone dapat menyeberangi sawar darah otak dan memengaruhi sistem saraf pusat. Efek samping neuropsikiatri bervariasi dari ringan hingga berat, termasuk insomnia, perubahan suasana hati (mood swings), kecemasan, depresi, hingga psikosis (halusinasi atau delusi) yang jarang terjadi. Efek ini lebih sering terjadi pada dosis tinggi, namun sensitivitas individual sangat beragam.
IV. Tinjauan Farmasi Klinis UGM: Menerapkan Penggunaan Obat Rasional (POR)
Dalam upaya mitigasi risiko penggunaan Dexamethasone yang sembarangan, Pakar Farmasi Klinis UGM terus mengampanyekan pentingnya Penggunaan Obat Rasional (POR). POR adalah landasan etika pengobatan, memastikan bahwa pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhan klinis mereka, dalam dosis yang memenuhi kebutuhan mereka, untuk periode waktu yang memadai, dan dengan biaya terjangkau.
Peran Krusial Apoteker dalam Pencegahan Swamedikasi
Pakar UGM mengingatkan bahwa apoteker di komunitas (apotek) adalah garda terdepan. Mereka memiliki tanggung jawab etis dan profesional untuk menahan penjualan Dexamethasone tanpa resep dokter. Dexamethasone seharusnya tidak dapat diakses untuk swamedikasi. Apoteker harus selalu memberikan konseling yang jelas mengenai mengapa obat tersebut hanya untuk indikasi spesifik.
Indikasi Tepat Dexamethasone Menurut Konsensus Pakar UGM:
- Hanya untuk pasien COVID-19 dengan kebutuhan oksigen tambahan (kasus sedang hingga berat).
- Dilarang keras untuk pasien COVID-19 tanpa gejala atau bergejala ringan.
- Penggunaannya harus singkat dan diawasi untuk mencegah penekanan adrenal.
- Harus dipertimbangkan risiko dan manfaatnya bagi pasien yang memiliki komorbiditas (diabetes, hipertensi, atau TBC laten).
Pakar UGM menggarisbawahi bahwa di fase awal infeksi COVID-19 ringan, sistem imun perlu dibiarkan bekerja untuk membangun kekebalan. Memberikan Dexamethasone pada fase ini justru menghambat respons imun yang penting, memperpanjang durasi sakit, dan meningkatkan potensi komplikasi jangka panjang.
V. Mitos vs. Realitas Dexamethasone: Klarifikasi Pakar Farmasi UGM
Banyak mitos beredar di masyarakat mengenai Dexamethasone, yang perlu diklarifikasi berdasarkan data ilmiah yang kredibel. Pakar Farmasi UGM berupaya meluruskan kesalahpahaman utama:
Mitos 1: Dexamethasone adalah 'Vaksin' Cepat atau Pencegah COVID-19
Realitas: Ini sepenuhnya salah. Dexamethasone adalah imunosupresan. Menggunakannya saat sehat tidak mencegah infeksi; sebaliknya, itu melemahkan pertahanan tubuh dan membuat Anda lebih rentan terhadap infeksi lain. Tidak ada peran Dexamethasone sebagai pencegah (profilaksis).
Mitos 2: Dexamethasone harus dibeli sebagai ‘Persediaan Darurat’ di Rumah
Realitas: Pakar UGM sangat melarang praktik ini. Memiliki stok Dexamethasone di rumah meningkatkan godaan swamedikasi ketika merasa sedikit tidak enak badan. Karena risiko penekanan adrenal dan efek metabolik yang tinggi, Dexamethasone harus diperlakukan sebagai obat resep yang penggunaannya ketat, bukan sebagai obat bebas layaknya Paracetamol.
Mitos 3: Semua obat COVID-19 harus mengandung Dexamethasone
Realitas: Dexamethasone hanya merupakan bagian dari regimen pengobatan untuk kasus yang parah, dan selalu diberikan bersama obat lain (antivirus, antibiotik jika ada infeksi bakteri sekunder, dll.). Regimen pengobatan harus dipersonalisasi oleh dokter berdasarkan tingkat saturasi oksigen dan kondisi paru-paru pasien.
VI. Ancaman Kesehatan Publik Jangka Panjang Akibat Swamedikasi Kortikosteroid
Peringatan dari Pakar Farmasi UGM tidak hanya berfokus pada dampak individual, tetapi juga pada risiko kesehatan publik yang lebih luas. Meluasnya swamedikasi kortikosteroid dapat menciptakan beban baru bagi sistem kesehatan Indonesia di masa depan. Individu yang saat ini tanpa sadar merusak kelenjar adrenal mereka akan menjadi pasien kronis yang memerlukan penanganan kompleks di kemudian hari.
Peningkatan kasus Diabetes Melitus tipe baru yang dipicu oleh steroid, peningkatan kasus hipertensi yang sulit dikendalikan, dan komplikasi osteoporosis pada usia yang lebih muda, adalah ‘warisan’ pandemi yang harus diwaspadai jika penggunaan Dexamethasone tidak segera dikontrol.
Pentingnya Pendekatan Multidisiplin UGM
UGM, melalui Fakultas Farmasi, Kedokteran, dan Kesehatan Masyarakat, menyerukan pendekatan multidisiplin. Edukasi harus melibatkan dokter, apoteker, perawat, dan media untuk memastikan pesan tentang bahaya Dexamethasone tersampaikan secara akurat dan konsisten. Pesan kuncinya adalah: kehebatan Dexamethasone terletak pada kemampuannya menyelamatkan nyawa, bukan pada kemampuannya menyembuhkan pilek atau demam ringan.
VII. Strategi Menghindari dan Mengatasi Penggunaan Dexamethasone yang Tidak Tepat
Bagi masyarakat yang terlanjur mengonsumsi Dexamethasone tanpa resep atau dalam jangka waktu yang lama, Pakar Farmasi UGM memberikan langkah-langkah kritis yang harus segera diambil:
1. Jangan Pernah Berhenti Tiba-Tiba
Jika Anda telah menggunakan Dexamethasone (atau kortikosteroid lain seperti Prednisone) selama lebih dari dua minggu, menghentikannya secara tiba-tiba sangat berbahaya karena risiko insufisiensi adrenal akut. Segera cari konsultasi medis.
2. Konsultasi untuk Program Tapering Off
Temui dokter atau apoteker klinis Anda. Mereka akan merencanakan program penurunan dosis yang aman (tapering off). Program ini bisa berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung durasi dan dosis obat yang Anda konsumsi.
3. Pemantauan Kesehatan Holistik
Selama dan setelah penggunaan Dexamethasone, penting untuk memantau indikator vital, termasuk:
- Kadar gula darah (risiko diabetes).
- Tekanan darah (risiko hipertensi).
- Kesehatan mental dan pola tidur.
Pakar UGM juga menyarankan agar masyarakat mencari sumber informasi kesehatan terpercaya, menghindari saran medis dari media sosial, dan selalu memverifikasi klaim ‘obat ajaib’ dengan profesional kesehatan berlisensi.
VIII. Kesimpulan: Utamakan Rasionalitas di Atas Mitos 'Obat Dewa'
Peringatan dari Pakar Farmasi UGM mengenai Dexamethasone adalah seruan penting untuk kembali pada prinsip dasar pengobatan: rasionalitas, indikasi, dan pengawasan. Meskipun Dexamethasone adalah obat penyelamat jiwa di tangan yang tepat (dokter dan apoteker klinis), ia bisa menjadi racun yang merusak kesehatan jangka panjang di tangan masyarakat yang melakukan swamedikasi tanpa pengetahuan yang memadai.
Masyarakat didorong untuk menghapus julukan ‘Obat Dewa’ dan melihat Dexamethasone sebagaimana adanya: kortikosteroid poten yang memerlukan penghormatan dan kehati-hatian maksimal. Keamanan dan kesehatan Anda tidak bergantung pada ketersediaan obat keras di kotak P3K Anda, melainkan pada keputusan bijak yang didasari konsultasi medis profesional. Mari dukung Penggunaan Obat Rasional demi kesehatan individu dan kesehatan publik Indonesia yang berkelanjutan.
[Pakar Farmasi UGM] terus berkomitmen untuk memberikan edukasi yang akurat mengenai bahaya swamedikasi kortikosteroid. Ingatlah: Dexamethasone bukan untuk semua orang, dan waktu penggunaannya sangat spesifik. Jangan korbankan kelenjar adrenal Anda demi ketenangan sesaat. Konsultasikan selalu gejala kesehatan Anda kepada profesional kesehatan terdekat.
Terima kasih telah mengikuti pembahasan peringatan penting pakar farmasi ugm mengurai mitos dan bahaya obat dewa dexamethasone dalam kesehatan, obat-obatan, mitos dan fakta, farmasi, dexamethasone ini sampai akhir Moga moga artikel ini cukup nambah pengetahuan buat kamu kembangkan hobi positif dan rawat kesehatan mental. Jangan ragu untuk membagikan ini ke sahabat-sahabatmu. semoga artikel lainnya juga bermanfaat. Sampai jumpa.
✦ Tanya AI
Saat ini AI kami sedang memiliki traffic tinggi silahkan coba beberapa saat lagi.