${post_schema_jsonld}
Hari
  • Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
${post_schema_jsonld= } "
Masdoni
12 min read

Ilmuwan Klaim Hirup Aroma Kentut Sendiri Bikin Otak Makin Sehat, Kok Bisa? Mengupas Tuntas Manfaat Hidrogen Sulfida ($\text{H}_2\text{S}$) bagi Kesehatan Seluler

Masdoni.com Hai semoga selalu dalam keadaan sehat. Pada Waktu Ini mari kita ulas Ilmu Pengetahuan, Kesehatan, Manfaat Hidrogen Sulfida, Potensi Aroma, Psikologi Otak yang sedang populer saat ini. Artikel Dengan Fokus Pada Ilmu Pengetahuan, Kesehatan, Manfaat Hidrogen Sulfida, Potensi Aroma, Psikologi Otak Ilmuwan Klaim Hirup Aroma Kentut Sendiri Bikin Otak Makin Sehat Kok Bisa Mengupas Tuntas Manfaat Hidrogen Sulfida textH2textS bagi Kesehatan Seluler Mari kita bahas tuntas artikel ini hingga bagian penutup.

Pernahkah Anda mendengar klaim yang terdengar absurd sekaligus menggelitik: bahwa menghirup aroma kentut, meskipun tak sedap, ternyata menyimpan manfaat tersembunyi bagi kesehatan otak dan sel tubuh? Di tengah hiruk pikuk informasi kesehatan, klaim ini mungkin terdengar seperti lelucon. Namun, ketika para ilmuwan serius membicarakan hal ini, kita perlu menengok lebih dalam ke dunia biokimiawi.

Artikel ini akan membawa Anda melampaui stigma bau tak sedap dan menyelami penelitian ilmiah mutakhir yang mengungkap peran vital salah satu komponen utama gas usus—Hidrogen Sulfida ($\text{H}_2\text{S}$). Klaim bahwa menghirup aroma kentut sendiri dapat membuat otak makin sehat bukanlah anjuran untuk melakukan terapi mandiri yang jorok, melainkan sebuah temuan revolusioner mengenai cara tubuh kita menggunakan molekul kecil yang sering dianggap beracun untuk melawan penyakit kronis dan memperpanjang umur sel.

Kita akan membahas mengapa $\text{H}_2\text{S}$, yang bertanggung jawab atas aroma khas telur busuk dan juga gas buangan tubuh, kini dipandang sebagai molekul perlindungan seluler (cytoprotective agent) yang sangat kuat. Bagaimana gas berbau ini dapat melindungi mitokondria—pembangkit energi sel—dari kerusakan oksidatif? Dan yang terpenting, bagaimana temuan ini membuka jalan bagi pengobatan revolusioner untuk penyakit seperti demensia, stroke, dan gagal jantung?

Bersiaplah untuk menantang pemahaman konvensional Anda tentang kesehatan dan bau. Inilah eksplorasi mendalam mengenai klaim kontroversial: Hirup Aroma Kentut Sendiri Bikin Otak Makin Sehat, Kok Bisa?

Mengurai Klaim Kontroversial: Fakta di Balik Aroma Tak Sedap

Klaim mengenai manfaat $\text{H}_2\text{S}$ ini pertama kali mencuat dari penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti di University of Exeter, Inggris. Studi yang dipimpin oleh Dr. Mark Wood ini tidak secara eksplisit menganjurkan orang untuk menghirup gas usus secara langsung, melainkan mempelajari efek terapeutik dari Hidrogen Sulfida dalam konsentrasi yang sangat rendah dan terkontrol. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa molekul gas tersebut memiliki potensi besar sebagai mekanisme pertahanan alami tubuh.

Mengapa bau yang sangat tidak menyenangkan ini bisa menjadi kunci kesehatan? Alasannya terletak pada paradoks biologis: banyak zat yang mematikan dalam dosis besar, justru berperan vital dalam dosis sangat kecil. Ambil contoh $\text{H}_2\text{S}$. Dalam konsentrasi tinggi, Hidrogen Sulfida adalah racun mematikan yang dapat mengganggu sistem pernapasan dan saraf. Namun, dalam jumlah nano-molar yang diproduksi secara alami oleh bakteri usus dan juga oleh sel-sel tubuh kita sendiri (proses yang disebut produksi $\text{H}_2\text{S}$ endogen), gas ini bertindak sebagai sinyal penting dan antioksidan.

Bagaimana Aroma Kentut Menjadi Indikator Kesehatan Usus?

Aroma kentut adalah hasil sampingan dari proses fermentasi makanan yang tidak tercerna oleh bakteri di usus besar. Mayoritas gas usus (sekitar 99%) tidak berbau (seperti Nitrogen, Oksigen, Karbon Dioksida, Metana). Aroma khas yang tidak sedap, yang seringkali memicu reaksi jijik, justru berasal dari senyawa sulfur, terutama Hidrogen Sulfida ($\text{H}_2\text{S}$). Produksi $\text{H}_2\text{S}$ ini sangat bergantung pada apa yang kita makan. Makanan kaya sulfur (seperti brokoli, bawang putih, telur) akan meningkatkan produksinya.

Ketika Anda menghirup aroma kentut, Anda menghirup jejak kecil dari gas $\text{H}_2\text{S}$ tersebut. Para ilmuwan berhipotesis bahwa paparan ringan ini memicu respons pertahanan dalam tubuh. Ibaratnya, tubuh menerima 'peringatan dini' akan adanya stres atau kerusakan, dan mengaktifkan mekanisme perbaikan seluler. Dalam konteks ini, $\text{H}_2\text{S}$ berfungsi sebagai agen hormesis—sebuah fenomena di mana paparan terhadap dosis rendah racun atau stresor justru menghasilkan efek perlindungan yang menguntungkan.

Penting untuk ditekankan bahwa klaim "menghirup aroma kentut" hanyalah cara yang sensasional untuk menjelaskan bahwa paparan minimal terhadap Hidrogen Sulfida memiliki manfaat. Jelas, penelitian ini berfokus pada potensi terapi masa depan yang menggunakan senyawa sintetis pelepas $\text{H}_2\text{S}$ yang aman, bukan pada praktik menghirup gas usus secara harfiah. Namun, pemahaman bahwa molekul yang kita keluarkan mengandung sifat penyembuhan adalah revolusioner.

Hidrogen Sulfida ($ ext{H}_2 ext{S}$): Dari Racun Mematikan Menjadi Molekul Ajaib

Untuk memahami sepenuhnya mengapa $\text{H}_2\text{S}$ penting bagi kesehatan otak dan seluler, kita harus melihat statusnya dalam biologi. $\text{H}_2\text{S}$ telah diakui sebagai salah satu dari tiga 'gasotransmitter' utama dalam tubuh mamalia, bersama dengan Nitrit Oksida ($ ext{NO}$) dan Karbon Monoksida ($ ext{CO}$). Berbeda dengan $\text{NO}$ dan $ ext{CO}$, yang relatif lebih dikenal, peran $\text{H}_2\text{S}$ baru diakui secara luas sejak awal abad ke-21.

Gasotransmitter adalah molekul gas yang berfungsi sebagai sinyal penting yang mengatur fungsi seluler, seperti relaksasi pembuluh darah, transmisi saraf, dan respons stres. Ini menunjukkan bahwa $\text{H}_2\text{S}$ bukanlah sekadar limbah biologis, melainkan molekul sinyal yang sengaja diproduksi oleh enzim spesifik (seperti CSE, CBS, dan 3-MST) di berbagai jaringan tubuh, termasuk otak, jantung, dan pembuluh darah.

Peran $\text{H}_2\text{S}$ dalam Sistem Saraf Pusat

Dalam otak, $\text{H}_2\text{S}$ memainkan peran kunci sebagai neuromodulator. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ia terlibat dalam regulasi tidur, memori, dan bahkan perlindungan terhadap excitotoxicity (kerusakan saraf akibat stimulasi berlebihan). Konsentrasi $\text{H}_2\text{S}$ yang tepat sangat penting; terlalu sedikit dapat menyebabkan masalah neurodegeneratif, sementara terlalu banyak tentu saja berbahaya.

Salah satu fungsi paling menarik dari $\text{H}_2\text{S}$ adalah kemampuannya untuk menginduksi keadaan 'hibernasi' metabolik ringan dalam kondisi stres. Ini dikenal sebagai proses 'suspended animation' atau mati suri yang dikontrol. Dalam model hewan, paparan $\text{H}_2\text{S}$ yang dikontrol dapat secara sementara menurunkan suhu tubuh dan laju metabolisme. Fenomena ini telah menarik perhatian besar, terutama dalam bidang transplantasi organ dan pengobatan trauma, karena perlambatan metabolisme dapat meminimalkan kerusakan jaringan akibat kekurangan oksigen (iskemia).

Gas ini secara fundamental bertindak sebagai regulator energi sel. Ia membantu sel untuk menghemat sumber daya saat berada di bawah tekanan, seperti saat terjadi stroke atau serangan jantung. Dengan memperlambat konsumsi energi, sel-sel otak yang kekurangan oksigen memiliki waktu lebih lama untuk bertahan hidup hingga aliran darah kembali normal. Inilah inti dari mengapa $\text{H}_2\text{S}$ sangat berharga dalam konteks penyakit degeneratif dan akut.

$ ext{H}_2 ext{S}$ dan Antioksidan: Perlindungan Melawan Radikal Bebas

Selain sebagai gasotransmitter, $\text{H}_2\text{S}$ juga adalah antioksidan yang sangat efektif. Tubuh kita terus-menerus diserang oleh radikal bebas, produk sampingan alami dari metabolisme yang dapat merusak DNA dan struktur sel, yang dikenal sebagai stres oksidatif. Stres oksidatif adalah pemicu utama penuaan dan sebagian besar penyakit kronis, termasuk penyakit Alzheimer dan Parkinson.

$\text{H}_2\text{S}$ bekerja dengan menetralkan radikal bebas dan juga dengan meningkatkan produksi antioksidan internal tubuh, seperti glutathione. Dengan cara ini, ia tidak hanya membersihkan kerusakan yang ada tetapi juga memperkuat pertahanan alami sel, memastikan bahwa sel-sel, termasuk neuron di otak, tetap berfungsi optimal meskipun terpapar stresor lingkungan atau internal. Kemampuan ganda ini—mengatur sinyal dan melindungi secara antioksidan—menjadikan $\text{H}_2\text{S}$ kandidat utama untuk terapi neuroprotektif di masa depan.

Mekanisme Perlindungan Seluler: Bagaimana $\text{H}_2\text{S}$ Bekerja pada Otak dan Sel Tubuh

Inti dari klaim bahwa $\text{H}_2\text{S}$ membuat otak makin sehat terletak pada kemampuannya untuk melindungi mitokondria. Mitokondria sering disebut sebagai 'pembangkit tenaga' sel. Mereka bertanggung jawab untuk menghasilkan sebagian besar energi (ATP) yang dibutuhkan sel untuk bertahan hidup dan berfungsi. Otak, sebagai organ yang paling rakus energi di tubuh, sangat bergantung pada fungsi mitokondria yang sempurna.

Mitokondria dan Kerusakan Oksidatif

Ketika sel mengalami stres—misalnya akibat inflamasi, penyakit, atau kekurangan oksigen (iskemia)—mitokondria menjadi target utama kerusakan. Kerusakan pada mitokondria menyebabkan kebocoran elektron, peningkatan radikal bebas, dan akhirnya, kematian sel (apoptosis atau nekrosis). Inilah yang terjadi pada skala masif selama stroke atau pada skala kronis pada penyakit neurodegeneratif.

Di sinilah $\text{H}_2\text{S}$ berperan sebagai pahlawan tak terduga. $\text{H}_2\text{S}$ bekerja langsung di mitokondria dengan beberapa cara:

1. Pengaturan Energi (Inhibisi Kompleks IV)

$\text{H}_2\text{S}$ memiliki kemampuan unik untuk mengikat kompleks tertentu dalam rantai transpor elektron mitokondria (terutama Kompleks IV, atau sitokrom c oksidase). Secara paradoks, pengikatan ini, meskipun mirip dengan cara kerja racun sianida, terjadi pada dosis yang sangat rendah dan reversibel. Efeknya adalah perlambatan sementara respirasi seluler.

Mengapa perlambatan itu baik? Bayangkan mesin yang bekerja terlalu keras. Dengan sedikit menginjak rem, $\text{H}_2\text{S}$ mengurangi produksi radikal bebas yang berlebihan (yang dihasilkan ketika rantai transpor berjalan terlalu cepat dan efisien) dan memungkinkan sel untuk 'beristirahat' dan memperbaiki kerusakan sebelum melanjutkan produksi energi. Ini adalah strategi adaptif yang sangat cerdas untuk bertahan hidup.

2. Modulasi Protein dan Sinyal Perlindungan

Selain mengganggu respirasi, $\text{H}_2\text{S}$ juga memodifikasi protein seluler melalui proses yang disebut persulfidation. Modifikasi kimiawi ini dapat mengaktifkan jalur sinyal yang secara eksplisit dirancang untuk melindungi sel. Sebagai contoh, $\text{H}_2\text{S}$ dapat mengaktifkan jalur Nrf2, yang merupakan 'master switch' untuk antioksidan seluler. Dengan mengaktifkan pertahanan ini, sel-sel otak menjadi jauh lebih tangguh terhadap kerusakan di masa mendatang.

Dengan mekanisme ganda ini—memperlambat kecepatan mesin energi dan memperkuat perisai antioksidan—$\text{H}_2\text{S}$ secara efektif mengurangi tekanan pada neuron di otak, melindungi mereka dari apoptosis, dan menjaga kesehatan seluler jangka panjang. Inilah alasan mendasar mengapa ilmuwan percaya bahwa $\text{H}_2\text{S}$ dapat menjadi penangkal yang kuat terhadap penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer, yang dicirikan oleh kegagalan mitokondria dan stres oksidatif yang parah.

Hubungan Dosis Rendah ($ ext{H}_2 ext{S}$) dan Hirup Aroma Kentut

Sekarang, mari kita kembali ke klaim awal: menghirup aroma kentut. Aroma tersebut memberikan paparan $\text{H}_2\text{S}$ dalam konsentrasi yang sangat, sangat rendah (tingkat parts per million atau bahkan parts per billion). Konsentrasi minimal inilah yang memicu efek hormesis yang diinginkan.

Penelitian di Exeter menunjukkan bahwa paparan dosis rendah ini membantu memelihara enzim yang penting untuk fungsi seluler. Dosis yang sangat kecil ini cukup untuk mengirimkan sinyal ke mitokondria bahwa stres sedang terjadi, mendorong mereka untuk mengaktifkan mode perlindungan, tanpa menyebabkan keracunan. Ini adalah salah satu bukti paling mencolok tentang bagaimana mikro-organisme di usus (melalui gas yang mereka hasilkan) dapat secara langsung memengaruhi kesehatan seluler di organ yang jauh, seperti otak. Hubungan antara mikrobioma usus dan kesehatan otak (disebut sumbu usus-otak) terus diperkuat oleh temuan mengenai gasotransmitter ini.

Aplikasi Medis Masa Depan: Bukan Hanya Kentut, Tapi Terapi Gas Cerdas

Meskipun gagasan tentang menghirup kentut itu lucu dan menarik perhatian, fokus utama para peneliti adalah mengembangkan cara yang aman dan efektif untuk memberikan dosis terapeutik $\text{H}_2\text{S}$ secara terkontrol. Tantangannya adalah Hidrogen Sulfida adalah gas yang sulit ditangani, sangat mudah menguap, dan beracun dalam konsentrasi tinggi. Solusinya terletak pada pengembangan senyawa pelepas $\text{H}_2\text{S}$ yang cerdas.

Pengembangan Molekul $\text{H}_2\text{S}$ Donor

Para ilmuwan telah merancang dan mensintesis molekul-molekul yang dapat disuntikkan atau diminum yang melepaskan $\text{H}_2\text{S}$ secara perlahan dan terkontrol di dalam tubuh, hanya ketika dibutuhkan oleh sel yang stres. Salah satu kandidat paling menonjol adalah molekul yang disebut AP39 (atau sering disebut 'kentut buatan').

AP39 dirancang untuk secara spesifik menargetkan mitokondria di sel-sel yang rusak dan melepaskan $\text{H}_2\text{S}$ dalam jumlah yang sangat kecil, tepat di tempat ia paling dibutuhkan. Hasil uji coba praklinis menunjukkan bahwa molekul seperti AP39 sangat efektif dalam melindungi sel jantung dari kerusakan setelah serangan jantung dan sel otak dari kerusakan setelah stroke.

Potensi terapi berbasis $\text{H}_2\text{S}$ ini mencakup berbagai kondisi medis yang melibatkan stres oksidatif dan disfungsi mitokondria, termasuk:

  1. Penyakit Neurodegeneratif: Melindungi neuron dari kematian sel pada Alzheimer dan Parkinson, yang secara intrinsik terkait dengan kerusakan mitokondria.
  2. Penyakit Kardiovaskular: Mengurangi kerusakan jaringan jantung dan pembuluh darah setelah iskemia (kekurangan oksigen), yang dapat mengurangi tingkat keparahan serangan jantung.
  3. Perlindungan Organ: Digunakan untuk menjaga organ donor tetap sehat sebelum transplantasi, memanfaatkan efek 'hibernasi' metabolik yang diinduksi oleh $\text{H}_2\text{S}$.
  4. Anti-inflamasi dan Pereda Nyeri: $\text{H}_2\text{S}$ juga menunjukkan sifat anti-inflamasi yang signifikan, membuka jalan untuk pengobatan kondisi nyeri kronis dan radang usus.

Ini adalah pergeseran paradigma dalam pengobatan. Alih-alih hanya berfokus pada penghilangan gejala, terapi $\text{H}_2\text{S}$ berupaya memperkuat pertahanan bawaan sel, membuat sel lebih tangguh dalam menghadapi penyakit.

Meningkatkan $\text{H}_2\text{S}$ Melalui Diet dan Gaya Hidup

Meskipun kita harus menunggu terapi $\text{H}_2\text{S}$ sintetis, kita dapat secara tidak langsung mendukung produksi $\text{H}_2\text{S}$ endogen melalui diet. Makanan yang kaya akan senyawa sulfur, seperti sayuran cruciferous (brokoli, kembang kol, kubis) dan allium (bawang putih dan bawang merah), menyediakan bahan baku yang dibutuhkan bakteri usus untuk memproduksi gas ini. Meskipun makanan ini dapat membuat gas usus Anda lebih 'beraroma,' ini adalah indikasi bahwa sistem usus Anda sedang memproduksi molekul sinyal vital ini.

Mengonsumsi makanan kaya sulfur ini, bersama dengan serat yang mendukung mikrobioma yang sehat, adalah cara yang aman dan alami untuk memastikan bahwa tubuh Anda memiliki pasokan $\text{H}_2\text{S}$ yang cukup untuk melindungi sel-sel otak dan tubuh lainnya dari stres oksidatif sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa kearifan kuno tentang "makanan sebagai obat" mungkin juga berlaku untuk molekul yang paling berbau dan sering diremehkan sekalipun.

Ringkasan Biologis dan Implikasi Filosofis Klaim Ini

Klaim bahwa 'hirup aroma kentut sendiri bikin otak makin sehat' adalah sebuah contoh sempurna dari bagaimana pemahaman ilmiah sering kali menantang intuisi. Aroma kentut, yang secara sosial dianggap menjijikkan, sebenarnya adalah pembawa pesan penting dari mikrobioma usus Anda. Pesan ini, yang dibawa oleh molekul $\text{H}_2\text{S}$ dalam dosis yang sangat kecil, adalah sinyal untuk mengaktifkan mekanisme pertahanan seluler di organ vital, terutama otak.

Kita telah melihat bahwa $\text{H}_2\text{S}$ bukanlah sekadar gas beracun, melainkan gasotransmitter vital yang mengatur fungsi mitokondria dan bertindak sebagai antioksidan. Ia adalah molekul yang, melalui efek hormesis, mengajarkan sel kita bagaimana menjadi lebih kuat, lebih tahan terhadap penyakit, dan lebih lama bertahan hidup di bawah tekanan.

Implikasi filosofis dari temuan ini juga mendalam. Ia memperkuat pandangan bahwa tidak ada bagian dari sistem biologis kita yang benar-benar 'sampah.' Bahkan produk sampingan metabolisme yang paling tidak diinginkan pun mungkin memiliki tujuan fungsional yang canggih. Ini menegaskan kembali pentingnya menjaga ekosistem usus kita, karena kesehatan mikrobioma secara langsung memengaruhi ketersediaan molekul perlindungan seperti $\text{H}_2\text{S}$ yang menyebar ke seluruh tubuh, melindungi otak dari penuaan dini.

Perjalanan dari mencemooh gas buangan hingga mengembangkannya menjadi terapi masa depan untuk Alzheimer dan stroke adalah bukti kemajuan luar biasa dalam biokimia dan farmakologi. Fokus kini beralih dari sekadar membunuh penyakit menjadi meningkatkan ketahanan inheren tubuh terhadap kerusakan seluler.

Kesimpulan dan Peringatan Penting (Cautionary Note)

Kesimpulannya, klaim ilmiah bahwa menghirup aroma kentut sendiri dapat bermanfaat bagi otak adalah benar, namun harus dipahami dalam konteks ilmiah yang tepat. Manfaatnya berasal dari Hidrogen Sulfida ($ ext{H}_2 ext{S}$), gas yang dihasilkan oleh bakteri usus, yang dalam dosis sangat rendah bertindak sebagai pelindung mitokondria dan antioksidan seluler yang kuat.

$\text{H}_2\text{S}$ membantu sel otak menghadapi stres oksidatif, mengurangi kerusakan yang terkait dengan penyakit neurodegeneratif, stroke, dan penuaan. Meskipun aroma kentut mengandung jejak $\text{H}_2\text{S}$ yang dapat memicu respons perlindungan (hormesis), penting untuk dicatat bahwa:

  1. Ini Bukan Rekomendasi Medis: Klaim ini tidak menyarankan praktik menghirup gas usus sebagai pengobatan. Penelitian berfokus pada pengembangan obat sintetis seperti AP39, yang dapat memberikan $\text{H}_2\text{S}$ secara aman dan terukur.
  2. Dosis Adalah Kunci: Dalam dosis tinggi, $\text{H}_2\text{S}$ adalah racun mematikan. Manfaatnya hanya terlihat pada konsentrasi nano-molar atau mikro-molar yang sangat rendah.

Alih-alih mencoba menguji klaim ini secara langsung, tindakan yang lebih bijaksana adalah fokus pada diet yang kaya akan prebiotik dan makanan mengandung sulfur untuk mendukung produksi $\text{H}_2\text{S}$ endogen yang seimbang. Dengan memahami peran krusial $\text{H}_2\text{S}$, kita dapat lebih menghargai kompleksitas biologi tubuh kita dan menantikan terobosan medis berbasis gasotransmitter yang akan merevolusi cara kita merawat dan melindungi otak dari waktu ke waktu.

Demikianlah ilmuwan klaim hirup aroma kentut sendiri bikin otak makin sehat kok bisa mengupas tuntas manfaat hidrogen sulfida texth2texts bagi kesehatan seluler telah saya bahas secara tuntas dalam ilmu pengetahuan, kesehatan, manfaat hidrogen sulfida, potensi aroma, psikologi otak Jangan lupa untuk terus belajar dan mengembangkan diri selalu berinovasi dan jaga keseimbangan hidup. Mari sebar informasi ini ke orang-orang terdekatmu. semoga Anda menikmati artikel lainnya di bawah ini.

Posted by Masdoni Saya adalah seorang penulis blog
Silahkan baca artikel selengkapnya di bawah ini.
"

© Copyright Sehat Bersama Mas Doni - Inspirasi Kesehatan untuk Hidup Lebih Baik. Hak Cipta Dilindungi.

Added Successfully

Type above and press Enter to search.

Close Ads