Mencegah Prediabetes Menjadi Diabetes | Guesehat

Last Updated on 4 bulan by masdoni


 

Diabestfriends, tahu enggak berapa jumlah penderita diabetes di Indonesia? Pada tahun 2021, International Diabetes Federation (IDF) mencatat, penderita diabetes di Indonesia mencapai 19,47 juta orang pada 2021, di mana sebanyak lebih dari 236 ribu di antaranya meninggal dunia karena penyakit tersebut.

 

Jika tidak dilakukan upaya pencegahan dan penanganan yang tepat, maka penderita diabetes di Indonesia diperkirakan bisa mencapai 23,33 juta orang pada 2030, bahkan mencapai 28,57 orang pada 2045.

 

Kebanyakan penderita diabetes tidak menyadari penyakitnya sampai sudah terjadi komplikasi. Padahal, diabetes bisa dicegah sejak fase prediabetes. Prediabetes adalah ketika hasil pengukuran gula darah sedikit lebih tinggi dari normal, tetapi belum memenuhi kriteria untuk didiagnosis sebagai diabetes.

 

Baca juga: Dinyatakan Prediabetes? Jangan Panik, Ada Cara Membalikkan Prediabetes secara Alami
 

Dua Cara Mencegah Prediabetes Menjadi Diabetes

Dalam rangka Hari Diabetes Sedunia 2022, Merck memberikan edukasi guna meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap diabetes dan prediabetes serta mendorong pencegahannya.

 

Prof. Dr. dr. Pradana Soewondo, Sp. PD-KEMD., Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes, mengatakan, perkembangan prediabetes menjadi diabetes tipe 2 bisa terjadi lebih cepat jika tidak dilakukan intervensi.

 

Data menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh pasien prediabetes yang tidak diberikan intervensi akan berkembang menjadi diabetes. “Selain itu, tidak perlu menunggu jadi diabetes, kondisi prediabetes sendiri sudah berisiko menimbulkan komplikasi kardiovaskular bila tidak ditangani dengan baik,” jelas Prof. Pradana.

Baca Juga:  Cek Kadar Gula di Kemasan untuk Cegah Diabetes

 

Namun, masyarakat tidak perlu khawatir karena walaupun seseorang telah terdiagnosis prediabetes, komplikasi kardiovaskular serta progresi menjadi diabetes dapat dicegah dengan penanganan yang baik, salah satunya dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat.

 

Risiko terkena diabetes tipe-2 dapat dikurangi hingga 58% dengan perubahan gaya hidup, seperti pola makan yang seimbang, rutin berolahraga, dan menurunkan berat badan. Selain perubahan gaya hidup, intervensi farmakoterapi juga dapat mengurangi risiko komplikasi kardiovaskular dan kejadian diabetes pada orang prediabetes.

 

Baca juga: Berjalan Kaki Setelah Makan Mengurangi Risiko Diabetes, Cukup 2 Menit!
 

Pemberian Metformin pada Orang Prediabetes

Intervensi farmakologi atau penggunaan obat bisa dimulai pada orang dengan prediabetes dan risiko tinggi, jika setelah 3 hingga 6 bulan melakukan intervensi gaya hidup dan/atau memperbaiki toleransi glukosa belum berhasil untuk mencapai penurunan berat badan yang diinginkan.

 

Obat yang diberikan adalah metformin sebagai terapi obat lini pertama dalam strategi pencegahan prediabetes dan diabetes.

 

“Selain itu, studi penting oleh Kelompok Penelitian Program Pencegahan Diabetes (DPP) juga telah menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup dan intervensi medis dapat mengurangi kejadian diabetes pada orang yang berisiko tinggi penyakit ini dan manfaat ini telah dikonfirmasi dalam studi jangka panjang selama 10 tahun dan 15 tahun,” jelas Prof. Pradana.

 

Sejak ditemukan 100 tahun lalu pada tahun 1922 oleh Emil Alphonse Werner dan James Bell, metformin telah banyak memberikan manfaat pengobatan untuk mengontrol kadar gula darah tinggi pada pasien prediabetes dan diabetes.

 

Selain itu, selama pencapaian satu abad ini, metformin telah memiliki basis bukti terkuat dan menunjukkan keamanan jangka panjang sebagai terapi farmakologis untuk pencegahan diabetes. Maka dari itu, intervensi farmakologis diperlukan sedini mungkin pada saat pasien dinyatakan dalam kondisi prediabetes dan dapat diberikan sebagai pendamping dari intervensi perubahan gaya hidup.

Baca Juga:  Penyebab Diare pada Penderita Diabetes

 

Baca juga: Penggunaan Metformin dan Akarbose sebagai Obat Diabetes

 

 





Sumber

About Author

Assalamu'alaikum wr. wb.

Hello, how are you? Introducing us Jatilengger TV. The author, who is still a newbie, was born on August 20, 1989 in Blitar and is still living in the city of Patria.